Life Style

5 Gaya Hidup Orang Jepang Yang Patut Ditiru

5 Gaya Hidup Orang Jepang Yang Patut Ditiru

Kalau mendengar kata Jepang, apa yang terlintas di benakmu? Tentu yang terlintas adalah Sushi, robot, atau kedisiplinannya? Ya. Gaya hidup orang Jepang yang patut ditiru memang banyak sekali. Meniru gaya hidup baik orang lain meskipun berbeda negara, bukanlah hal tabu, tetapi justru bisa mendorongmu agar hidup lebih baik.

Dalam kemajuan budaya dan teknologi serta inovasi, maka Jepang adalah salah satu negara yang patut ditiru. Ada banyak sekali kebiasaan-kebiasaan baik di Jepang dan tentu bisa menjadi contoh bagi banyak orang di dunia.

Di Jepang, orang-orang bekerja 2450 jam per tahun, dan ini adalah angka yang sangat tinggi, jika dibandingkan dengan jam kerja di Jerman yang hanya 1870 jam per tahun. Keberhasilan Jepang dalam membangun puing-puing sisa perang dunia ke-2, akibat dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, tidak memadamkan semangat Jepang untuk kembali membangun negerinya.

5 Gaya Hidup Orang Jepang Yang Patut Ditiru

sponsored: cream pemutih wajah

Jepang merupakan negara yang menghargai budaya dan etika kesopanan dalam hidup. Hal itu selalu mereka terapkan dalam kehidupan sehari hari dimanapun mereka berada.

Contohnya saat Piala Dunia 2014 di Brazil, para suporter Jepang yang datang di stadion itu, rela membersihkan stadion yang digunakan oleh tim Jepang. Kejadian ini kemudian menjadi viral dan dikagumi oleh banyak negara lain di dunia.

Memang betul bahwa setiap bangsa memiliki budaya dan kebiasaan positif. Jepang adalah salah satu negara yang bisa maju karena kebiasan dan budaya masayarakatnya.

Berikut ini kami akan menampilkan beberapa gaya hidup warga Jepang yang harus dicontoh oleh seluruh warga dunia.

1. Menghormati Orang Lain dan Tradisi

Aisatsu adalah budaya negara Jepang entah itu meminta maaf, berkenalan, bertamu di rumah orang, mengatakan permisi, bahkan sampai berbicara di telepon. Meski berbicara ditelepon, tetapi orang Jepang selalu membungkuk, padahal orang yang berbicara dengannya di telepon tidak melihatnya.

Membungkuk atau sering disebut ojigi adalah sebuah keharusan. Tradisi ini selalu diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak sejak balita.

Meskipun semuanya serba modern dan memiliki kemajuan di bidang teknologi yang pesat, namun tidak membuat bangsa Jepang melupakan tradisi dan budayanya. Itu sebabnya, orang Jepang tidak sungkan untuk mengucapkan maaf kepada orang lain.

Selain itu, orang Jepang juga dikenal tidak suka membantah terhadap orangtua. Mereka menganggap bahwa orang tua adalah salah satu jalan untuk menentukan hidup mereka. Jika orang tua berkata, maka anak pun akan segera mengerjakan dan tidak pernah membantah.

2. Budaya Malu

Di Jepang atau dimanapun tempatnya, setiap orang akan memiliki leluhur yang sudah meninggal dunia. Bagi masyarakat Jepang, menghormati leluhur adalah hal wajib. Nasehat para leluhur selalu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, akan ada orang yang memilih untuk bunuh diri jika melakukan kesalahan yang memalukan,  seperti korupsi dan lain sebagainya. Masyarakat di Jepang memiliki budaya menusukkan pisau ke perutnya hingga mati jika terbukti salah pada apapun yang dilakukannya, yang disebut dengan Harakiri.

Malu adalah budaya yang paling ditakuti di Jepang. Sebab salah sedikit saja maka kematian taruhannya.

Malu merupakan budaya leluhur dan sudah turun temurun bagi bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran.

Memasuki era yang lebih modern, maka wacana Harakiri sedikit berubah menjadi sebuah sikap fenomenal, yaitu “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya.

Meksipun sudah berubah wacana tidak seperti dulu lagi, tetapi Harakiri memiliki efek negative untuk anak-anak SD, SMP yang kadang justru melakukan bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Mandiri

Di negara lain mungkin anak-anak harus diantar ketika sekolah dengan naik bus atau naik sepeda motor, kalau tidak maka mereka tidak akan masuk sekolah. Tetapi di Jepang tidak demikian, karena anak-anak harus mandiri sejak dini. Setiap anak di Jepang akan dituntut untuk belajar sendiri, tidak mencontoh teman, bahkan termasuk mengerjakan sendiri pekerjaan di rumah.

Setiap anak akan dilatih membawa perlengkapannya sendiri, dan harus bertanggung jawab terhadap perlengkapannya. Bahkan, pada saat anak-anak masuk SMA hampir semua anak masuk dengan biaya sendiri dan tidak meminta orang tuanya untuk membayar sekolah. Jika sudah masuk kuliah mereka akan rela membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Oleh karena itu di Jepang sudah terkenal dengan budaya mandiri, dimana anak-anak apalagi orang dewasa dapat hidup dimana saja tanpa banyak mengandalkan orang lain.

4. Kerja Keras

Budaya kerja keras adalah salah satu budaya positif yang perlu dicontoh oleh bangsa lain. Di Jepang, rata-rata orang bekerja hampir 2450 jam per tahun.

Kerja keras di Jepang sangat diutamakan, karena itu pegawai yang pulang kerja lebih cepat dianggap sebagai pegawai yang malas dan sudah dianggap telah melakukan tindakan memalukan.

Sebagai contoh, jika di Jepang 1 unit mobil dapat diselesaikan dalam 9 hari, maka di negara lain rata-rata 47 hari. Mobil yang dihasilkan pun bernilai sama. Seorang pekerja Jepang bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang.

Bagaimana, kamu sanggup meniru pola kerja keras orang Jepang?

5. Hemat

Budaya lain dari orang Jepang yang perlu dicontoh adalah hidup hemat.

Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Seperti di masa awal kehidupan di Jepang setelah terjadinya perang dunia ke-2, banyak orang Jepang yang sering jalan kaki ataupun naik sepeda. Bahkan kebiasaan ini hingga kini masih dipelihara oleh orang Jepang.

Di Jepang juga terdapat budaya yang dinamakan anti konsumsi. Ini terbukti bahwa toko-toko di Jepang akan memberikan diskon hingga 50% dari harga asli, setiap 30 menit menjelang tutup toko. Maka, tidak mengherankan jika kemudian akan banyak orang yang antri untuk berbelanja pada jam-jak itu. Rata-rata di Jepang supermarket dan toko tutup pada pukul 20:00.

Itulah 5 budaya positif orang Jepang yang patut kita tiru. Jangan malu untuk meniru sikap baik orang lain, karena belajar itu bisa saja dari bangsa atau orang lain. Selamat berbenah diri untuk menjadi lebih baik.

0
0%
like
1
100%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top